KEPULAUAN ARUSIRI-PINANG

“Kisah Senyap Prada Abdi: Prajurit Dua Asal Aru yang Raih Bintang Sakti dari Bung Karno di Perang Trikora”  

×

“Kisah Senyap Prada Abdi: Prajurit Dua Asal Aru yang Raih Bintang Sakti dari Bung Karno di Perang Trikora”  

Sebarkan artikel ini
Prada Abdi Karesi Wamir (Foto : Istimewa)

Sebuah Narasi Lengkap tentang Keberanian di Garis Depan Pembebasan Irian Barat

Oleh : Yoseph Sudarso Labok

Wartawan ARAFURAsiber.com

 

Di balik lembaran sejarah perjuangan bangsa, gemuruh Pertempuran Laut Aru pada 15 Januari 1962 yang merenggut nyawa Komodor Yos Sudarso begitu membekas dalam ingatan kolektif Indonesia. Namun, di balik palagan laut tersebut, tersembunyi kisah heroik para pejuang darat dari Kepulauan Aru yang jarang tercatat dalam buku-buku sejarah tebal. Salah satunya adalah Prada Abdi, pemuda sejati yang lahir dengan nama Karesi Wamir dari Desa Marlasi, Kepulauan Aru, Maluku.

Lahir dari pasangan Labora Wamir dan Supia Wamona, nama “Abdi” kemudian melekat erat sebagai identitas militernya dengan Nomor Registrasi Pokok (NRP) 4797662. Sebagai prajurit Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD), ia mengukir tinta emas dalam Operasi Trikora demi mengembalikan Irian Barat ke pangkuan Ibu Pertiwi.

Perjalanan hidup Abdi, yang pangkat terakhirnya tercatat sebagai Kopral Purnawirawan TNI AD, menjadi sangat luar biasa. Ia merupakan salah satu prajurit langka yang dianugerahi dua tanda kehormatan tertinggi negara sekaligus: Bintang Sakti Mahawira dan Satyalancana Dharma. Hebatnya lagi, penghargaan tertinggi ini ia dapatkan saat masih menyandang pangkat Prajurit Dua (Prada).

Identitas Lengkap Pejuang Trikora

  • Nama Lahir: Karesi Wamir
  • Nama Militer: Abdi (NRP 4797662)
  • Asal Daerah: Desa Marlasi, Kecamatan Aru Utara, Kabupaten Kepulauan Aru, Provinsi Maluku
  • Orang Tua: Labora Wamir (Ayah) & Supia Wamona (Ibu)
  • Unit Militer: Kompi Raider Kodam XV/Pattimura
  • Pangkat Akhir: Kopral Purnawirawan TNI AD

Sebagai putra daerah Marlasi, sebuah wilayah strategis di ujung utara Kepulauan Aru, Abdi terlibat langsung dalam dinamika Operasi Trikora (1961–1962). Saat itu, Kepulauan Aru menjadi basis penting bagi pasukan TNI untuk melakukan infiltrasi ke wilayah Irian Barat yang masih diduduki Belanda. Abdi tergabung dalam Kompi Raider Kodam XV/Pattimura, sebuah unit elite TNI AD yang terlatih khusus untuk operasi tempur penuh risiko, infiltrasi, dan sabotase di garis depan musuh.

Penganugerahan Bintang Sakti Mahawira: Pengakuan Heroisme Luar Biasa

Bukti nyata atas keberanian luar biasa Prada Abdi tertuang dalam Piagam Tanda Kehormatan yang dikeluarkan langsung oleh Presiden/Panglima Tertinggi Angkatan Perang Republik Indonesia, Sukarno.

Kutipan Piagam Tanda Kehormatan:

“Presiden/Panglima Tertinggi Angkatan Perang Republik Indonesia menganugerahkan tanda kehormatan Bintang Sakti Mahawira kepada Abdi, Prada/BA, Angkatan Ki Raiders/Angkatan Darat Dam XV/PTM. Atas jasa baktinya dalam melaksanakan tugas militer di Irian Barat dengan melebihi dan melampaui panggilan kewajibannya, sehingga memberikan keuntungan yang luar biasa bagi kemajuan dan pembangunan angkatan perang dan negara.”

Jakarta, 29 Januari 1963.
Presiden/Panglima Tertinggi Angkatan Perang Republik Indonesia,
Sukarno.

Tanggal penganugerahan ini (29 Januari 1963) sangatlah signifikan karena diberikan tidak lama setelah Operasi Trikora berakhir. Bintang Sakti Mahawira merupakan tanda kehormatan tertinggi yang hanya diberikan kepada individu dengan keberanian dan ketabahan luar biasa di medan perang, melampaui panggilan tugas biasa.

Mengingat penghargaan ini umumnya didominasi oleh perwira, penganugerahannya kepada seorang Prada/Bawahan adalah sebuah anomali yang sangat langka dalam sejarah TNI. Hal ini menjadi indikator kuat bahwa tindakan penyelamatan dokumen negara atau kontribusi taktis yang dilakukan Abdi di Irian Barat memiliki dampak yang sangat krusial bagi keselamatan bangsa, sehingga ia layak menerima penghargaan tertinggi tersebut tanpa memandang pangkatnya yang masih rendah.

Sebagai konteks historis, pada tanggal yang sama—29 Januari 1963—Presiden Sukarno melalui Keppres RI No. 14 juga menganugerahkan Bintang Sakti kepada 61 awak kapal selam KRI Tjandrasa-408 atas aksi infiltrasi heroik mereka. Ini menegaskan konsistensi dan validitas skala operasi penting yang melibatkan Prada Abdi.

Satyalancana Dharma: Pengakuan Pengabdian Operasi Trikora

Selain Bintang Sakti, pengabdian aktif Abdi di medan laga juga dikukuhkan melalui Surat Tanda Penghargaan Satyalancana Dharma yang dikeluarkan oleh Wakil Menteri Pertama Bidang Pertahanan dan Keamanan.

Kutipan Surat Tanda Penghargaan:

“Wakil Menteri Pertama Bidang Pertahanan/Keamanan Republik Indonesia memutuskan, menyatakan bahwa nama: Abdi, pangkat: Prada, jabatan: anggota Ki.raiders/patimura, dianugerahi Satya lencana Dharma.”

Dikeluarkan di Jakarta pada tanggal 12 Februari 1963.
Wampa Bidang Pertahanan Keamanan,
A.H. Nasution, Jenderal TNI.

Satyalancana Dharma (yang dalam konteks ini sering disebut sebagai Satyalancana Pembebasan Irian Barat) adalah penanda bahwa prajurit tersebut terlibat aktif dalam operasi militer vital negara. Penghargaan ini menjadi segel pengakuan resmi bahwa garis komando Kodam XV/Pattimura di Maluku berhasil menjalankan tugas infiltrasi berbahaya ke daratan Irian Barat.

Legitimasi Hukum melalui Keppres No. 14 Tahun 1963

Seluruh penghargaan yang diterima oleh Prada Abdi memiliki landasan hukum negara yang kokoh, sesuai dengan dokumen resmi Sekretariat Negara:

Kutipan Salinan Keputusan Presiden:

“Salinan Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 14 Tahun 1963 tentang pemberian tanda-tanda kehormatan. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 29 Januari 1963. Presiden Republik Indonesia TTD Sukarno.

Sesuai dengan yang asli, Kepala Biro VI Sekretaris Negara, R. Moch. Umargatab, Brigadir Jenderal Polisi.”

Keppres ini menjadi payung hukum kolektif bagi para pahlawan Trikora terpilih. Kesamaan tanggal antara penetapan Keppres dan piagam Bintang Sakti milik Abdi memperkuat keaslian sejarah yang ia torehkan.

Dari Prada hingga Kopral Purnawirawan: Pengabdian Seumur Hidup

Usai berakhirnya pergolakan di Irian Barat, Abdi melanjutkan karier militernya di tubuh TNI AD. Transisi pangkat dari seorang Prajurit Dua hingga pensiun dengan pangkat Kopral merupakan jalur pengabdian yang bersih dan penuh dedikasi bagi seorang tamtama. Rekam jejak emasnya sebagai pemegang Bintang Sakti dan Satyalancana Dharma senantiasa menjadi kehormatan tertinggi dalam riwayat kedinasannya hingga masa purnawirawan tiba.

Dampak dan Warisan Pejuang dari Marlasi untuk Indonesia

Prada Abdi (Karesi Wamir) adalah representasi nyata dari ribuan pejuang senyap yang memberikan sumbangsih raksasa bagi kedaulatan Indonesia. Kisah heroiknya menegaskan tiga hal penting:

  1. Kepahlawanan Universal: Keberanian tidak pernah mengenal pangkat, strata, ataupun asal-usul. Seorang Prada dari desa terpencil di ujung Maluku terbukti mampu memberikan kontribusi taktis yang diakui oleh panglima tertinggi negara.
  2. Mengisi Celah Sejarah: Narasi sejarah sering kali didominasi oleh kisah para jenderal dan perwira tinggi. Kisah Abdi hadir untuk mengisi kekosongan dokumentasi mengenai perjuangan hebat di tingkat tamtama.
  3. Kebanggaan Daerah: Bagi masyarakat Desa Marlasi dan Kabupaten Kepulauan Aru, sosok Karesi Wamir adalah mutiara hitam lokal yang patut diteladani, diabadikan, dan diwariskan kepada generasi muda.

Perjuangan mempertahankan keutuhan NKRI dibangun atas tetesan keringat dan darah kolektif—mulai dari instruksi Presiden di podium hingga keberanian prajurit termuda di belantara hutan. Menjadi tugas kita hari ini untuk memastikan kisah heroik seperti Prada Abdi (Karesi Wamir) tidak tenggelam ditelan zaman, melainkan terus hidup dan membakar semangat nasionalisme generasi penerus. (*)

 

Catatan: Artikel sejarah singkat mengenai Tokoh Pejuang Trikora asal Kepulauan Aru ini, dipublikasikan atas izin resmi dari putra kelima beliau, Ambodabi Abdi Wamir.

Sumber  : akun facebook Paulus Boger

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *