ARAFURAsiber.com, DOBO – Masyarakat adat Desa Benjuring, Kecamatan Aru Utara Timur Batuley, Kabupaten Kepulauan Aru, kembali melaksanakan ritual adat Bameti malam. Prosesi ini merupakan bagian krusial dari sistem pengelolaan adat Sasi Teripang yang dipegang teguh oleh Rumpun Adat Alar Gwatley.
Bameti sendiri merupakan tradisi turun-temurun masyarakat Kepulauan Aru dalam mengumpulkan biota laut dengan memanfaatkan fenomena air laut surut (meti). Pada ritual Bameti malam di Benjuring, seluruh warga desa turun ke pesisir pantai yang landai secara bersama-sama ketika air surut terjauh terjadi di kegelapan malam. Dengan hanya menggunakan alat tradisional yang ramah lingkungan seperti kalawai (tombak ikan kecil), obor, atau lampu senter, masyarakat menyisir kubangan air di antara batu karang untuk mengumpulkan teripang yang telah mencapai ukuran layak panen.

Tokoh adat sekaligus Camat Aru Utara Timur, Mika Ganobal, menegaskan bahwa praktik sasi ini adalah benteng pertahanan ekologi mereka.
“Sasi teripang di Desa Benjuring ini bukan sekadar rutinitas adat atau mencari makan, melainkan tabungan masa depan dan wujud konkret kearifan lokal kami dalam menghargai alam. Melalui Bameti malam, kami mengajarkan generasi muda untuk memanen secara bertanggung jawab hanya menggunakan alat sederhana tanpa merusak rumah karang, sehingga laut tetap lestari bagi anak cucu,” ujar Mika Ganobal.
Melalui pelaksanaan ritual adat yang ketat ini, Rumpun Adat Alar Gwatley berhasil membuktikan bahwa pelestarian lingkungan berbasis komunitas mampu mencegah eksploitasi laut berlebihan di wilayah Kepulauan Aru.(*)
Editor : Redaksi









