SIRI-PINANG

Tradisi Pele Meti: Cara Unik Warga Kepulauan Aru Tangkap Ikan Tanpa Merusak Karang

×

Tradisi Pele Meti: Cara Unik Warga Kepulauan Aru Tangkap Ikan Tanpa Merusak Karang

Sebarkan artikel ini
Seorang Nelayan saat menjual Ikan Hasil Tangkap "Pele Meti" yang di Pasar, Kota Dobo

DOBO — Salah satu cara menangkap ikan secara tradisional di Kepulauan Aru adalah tradisi “Pele Meti”. Cara ini dianggap sangat mudah, murah, sekaligus ramah lingkungan.Dikatakan mudah dan murah karena alat tangkap yang digunakan hanyalah jaring biasa.

Sementara itu, prosesnya juga tergolong ringan karena jaring dilepas pada permukaan yang dangkal saat air laut surut. Ketika air surut, semua ikan akan terkumpul di dalam kolam alami. Warga kemudian mengarahkan ikan-ikan tersebut ke satu titik sehingga tidak ada yang lolos kembali ke laut lepas.

Ikan Hasil Pele Meti yang dijual di Pasar Jar Garia, Dobo

Tradisi ini juga menjadi cerminan eratnya hubungan masyarakat lokal dengan alam. Keberadaan Pele Meti memastikan pasokan pangan warga terpenuhi tanpa harus mengeksploitasi laut secara berlebihan.

“Tradisi Pele Meti ini sudah turun-temurun dari leluhur kami di Aru. Kami sengaja hanya menggunakan jaring biasa dan menunggu air surut supaya terumbu karang di bawah tidak rusak. Ikan yang didapat pun secukupnya, sehingga laut kami tetap terjaga untuk anak cucu,” ujar Nikolaus Sentimir, salah satu tokoh masyarakat setempat, Minggu (9/8).

Selain praktis dan bernilai budaya tinggi, tradisi Pele Meti ini terbukti sangat ramah lingkungan. Metode ini sama sekali tidak merusak atau mengganggu ekosistem terumbu karang yang menjadi rumah bagi biota laut di perairan Kepulauan Aru. (*)

Editor : Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *